Uncategorized

Pastor Pius Heljanan, MSC: Jangan Biarkan Sifat Herodes Tumbuh dalam Hati

Share

faktaexpost.my.id⁠ | Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Sabtu, 1 Agustus 2026 – Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, mengajak umat untuk tidak membiarkan sifat Herodes dan Herodias tumbuh dalam kehidupan.

Pesan tersebut menjadi refleksi rohani tentang keberanian mempertahankan kebenaran, sekaligus peringatan agar kekuasaan, gengsi, dendam, dan kepentingan pribadi tidak mengalahkan suara hati.

Dalam refleksinya yang merujuk pada kisah Yohanes Pembaptis dalam Injil Matius 14:1-12, Pastor Pius menempatkan keberanian Yohanes sebagai teladan iman. Yohanes tidak memilih diam ketika berhadapan dengan kesalahan penguasa.

Ia menyampaikan teguran karena melihat adanya penyimpangan moral dalam kehidupan Herodes dan Herodias.

“Yohanes Pembaptis menegur Herodes dan Herodias.” Kalimat tersebut menjadi pintu masuk refleksi Pastor Pius mengenai keberanian untuk mengatakan sesuatu yang benar ketika berhadapan dengan tindakan yang keliru.

Yohanes Pembaptis, dalam kisah tersebut, berani menegur Herodes karena mengambil Herodias, istri Filipus. Teguran itu kemudian berhadapan dengan kepentingan kekuasaan dan dendam.

Herodes berada dalam posisi yang membuatnya mempertahankan gengsi sebagai penguasa, sementara Herodias menyimpan kemarahan terhadap Yohanes Pembaptis.

Pastor Pius mengingatkan bahwa persoalan tersebut tidak hanya menjadi cerita masa lalu. Sifat Herodes dan Herodias, dalam makna reflektif, dapat muncul dalam berbagai bentuk kehidupan manusia masa kini.

Kekuasaan dapat membuat seseorang merasa tidak tersentuh, sedangkan dendam dapat mendorong seseorang menyingkirkan orang lain yang dianggap mengganggu kepentingannya.

Ketika Kekuasaan Menjadi Ancaman
Dalam kehidupan sosial, pekerjaan, pelayanan maupun relasi kemasyarakatan, kekuasaan dapat menjadi berkat apabila digunakan untuk melayani.

Namun, kekuasaan dapat berubah menjadi ancaman ketika dipakai untuk membungkam suara kritis atau menghukum orang yang berbeda pandangan.

Pastor Pius mengingatkan bahwa terdapat banyak sosok yang secara simbolis menyerupai “Herodes” di sekitar kehidupan manusia. Mereka dapat tampil melalui kekuasaan, jabatan, pengaruh maupun posisi sosial yang memungkinkan seseorang menentukan nasib orang lain.

“Ingat, ada banyak ‘herodes’ di sekitarmu. Karna merasa berkuasa dapat saja ‘membunuh’ masa depanmu, melumpuhkan usahamu, memangkas kariemu dan menghancurkan jabatanmu.”

Pesan tersebut mengandung peringatan bahwa ketidakadilan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan secara fisik.

Tekanan terhadap seseorang dapat muncul melalui tindakan yang menghambat masa depan, mematikan kesempatan, merusak usaha, atau menyingkirkan seseorang dari ruang pengabdian dan pekerjaan.

Dendam yang Membungkam Kebenaran
Selain “Herodes”, Pastor Pius juga mengajak umat mengenali sifat “Herodias” dalam kehidupan. Dendam, sakit hati, dan ketidakmampuan menerima teguran dapat membuat seseorang melihat kebenaran sebagai ancaman, bukan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.

Dalam konteks itu, orang yang berani mengoreksi kesalahan tidak selalu mendapatkan penghargaan. Sebaliknya, ia dapat menghadapi penolakan karena tegurannya menyentuh kepentingan atau kenyamanan orang lain.

“Tapi juga ada ‘herodias’ dlm hidupmu. Bila kita setia mengoreksi kesesatan hidup sesama, berani menegur perbuatan yg salah, maka kita dibenci, dan disingkirkan dlm hidup.”

Refleksi tersebut sekaligus mengajak umat melakukan pemeriksaan batin. Jangan sampai seseorang hanya mampu melihat kesalahan Herodes dan Herodias dalam diri orang lain, tetapi gagal mengenali benih kesombongan, dendam, gengsi, atau kecenderungan menyalahgunakan kekuasaan yang mungkin tumbuh dalam dirinya sendiri.

Berani Berkata Benar
Bagi Pastor Pius, keberanian menyuarakan kebenaran merupakan bagian penting dari panggilan hidup orang beriman. Kebenaran tidak boleh dikorbankan hanya demi menjaga hubungan, memperoleh keuntungan, mempertahankan jabatan, atau menghindari tekanan.

Namun, keberanian menyampaikan kebenaran juga harus disertai kasih, kebijaksanaan dan tanggung jawab. Menegur bukan berarti merendahkan. Mengoreksi bukan berarti membenci.

Teguran yang lahir dari kepedulian justru dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk kembali kepada kehidupan yang benar.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan dalam kehidupan masyarakat ketika kepentingan pribadi, kekuasaan dan tekanan sosial dapat memengaruhi keberanian seseorang untuk bersuara.

Dalam situasi demikian, suara hati dan nilai kebenaran membutuhkan keberanian untuk tetap dipertahankan. “Jangan takut berkata benar dan betindak adil bagi sesama.”

Refleksi Pastor Pius pada akhirnya bukan sekadar ajakan untuk mengkritik orang lain, melainkan panggilan untuk melihat ke dalam diri sendiri.

Setiap orang diajak memastikan agar tidak menjadi “Herodes” yang menggunakan kekuasaan untuk menekan, maupun “Herodias” yang membiarkan dendam menguasai hati.

Di tengah kehidupan yang penuh dinamika, pesan tersebut mengingatkan bahwa keberanian menjaga kebenaran memang tidak selalu menghadirkan jalan yang mudah.

Namun, iman menuntun manusia untuk tetap memilih keadilan, menghindari kompromi dengan dosa, serta memperlakukan sesama dengan kasih dan martabat kemanusiaan.
(Editor: johanis kopong)
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *