Uncategorized

Pastor Pius Heljanan MSC Ajak Umat Tetap Setia Memikul Salib Kehidupan

Share

www.faktaexpost.com⁠ | Saumlaki – Jumat, 10 Juli 2026 – Menjadi pengikut Kristus bukanlah jalan yang selalu dipenuhi kenyamanan dan kemudahan. Di balik panggilan untuk mewartakan kasih, kebenaran, dan keadilan, setiap orang beriman akan berhadapan dengan berbagai tantangan kehidupan.

Namun, justru di tengah pergumulan itulah iman ditempa dan kesetiaan kepada Tuhan diuji. Pesan tersebut disampaikan Pastor Pius Heljanan MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dalam renungan hariannya yang berlandaskan bacaan Injil Matius 10:16–23.

Mengangkat tema “Jadilah Saksi Kristus di Tengah Kesulitan Hidup,” Pastor Pius mengajak umat Kristiani untuk memahami bahwa menjadi murid Yesus berarti siap menghidupi nilai-nilai Injil di tengah dunia yang tidak selalu menerima kebenaran.

Menurutnya, panggilan sebagai pengikut Kristus bukan sekadar identitas, melainkan komitmen untuk menghadirkan kasih, kejujuran, dan keadilan melalui teladan hidup sehari-hari.

Yesus Telah Mengingatkan Murid-Nya
Dalam refleksinya, Pastor Pius mengawali dengan mengutip sabda Yesus dalam Injil Matius.

“Aku mengutus kalian seperti domba ke tengah serigala… Kalian akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.”

Menurutnya, sabda tersebut menunjukkan bahwa Yesus sejak awal telah mengingatkan para murid-Nya mengenai konsekuensi mengikuti-Nya. Dunia sering kali bertolak belakang dengan nilai-nilai kasih, kejujuran, kebenaran, dan keadilan yang diajarkan dalam Injil.

Karena itu, menjadi murid Kristus bukan hanya berarti percaya kepada-Nya, tetapi juga berani menjadi saksi melalui sikap hidup yang mencerminkan ajaran-Nya, meski harus menghadapi berbagai tantangan.

Kesaksian Hidup Lebih Bermakna daripada Sekadar Perkataan
Pastor Pius menegaskan bahwa pewartaan Injil tidak hanya dilakukan melalui kata-kata, tetapi terutama melalui kehidupan yang menjadi teladan bagi sesama.

Menurutnya, setiap orang percaya dipanggil untuk memperlihatkan kehidupan yang lurus, jujur, serta mengedepankan kasih dalam relasi dengan sesama.

“Menjadi murid Yesus berarti kita harus mewartakan dan mempersaksikan hidup benar dan lurus melalui keteladanan hidup.”

Ia mengingatkan bahwa kesaksian hidup yang baik akan menjadi pewartaan Injil yang paling nyata di tengah masyarakat.

Kesetiaan Selalu Mengandung Konsekuensi
Pastor Pius tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa hidup dalam kebenaran sering kali menghadirkan berbagai risiko.

Penolakan, ancaman, kebencian, perlakuan tidak adil, hingga hambatan dalam pekerjaan maupun pelayanan merupakan bagian dari perjalanan iman yang mungkin dialami setiap orang percaya.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari ketika seseorang memilih tetap hidup sesuai kehendak Tuhan.

“Pengikut Yesus harus sadari tidak pernah merasa aman dan nyaman bila hidup benar. Selalu ada musuh yang mengintai dan berencana membinasakan.”

Karena itu, umat diminta tidak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai tekanan, melainkan tetap teguh mempertahankan iman kepada Kristus.

Salib Kehidupan Menjadi Jalan Menuju Kedewasaan Iman

Dalam renungannya, Pastor Pius mengajak umat memandang setiap kesulitan sebagai bagian dari salib kehidupan yang harus dipikul bersama Tuhan.

Menurutnya, salib bukanlah lambang kekalahan, melainkan jalan yang ditempuh setiap murid Kristus untuk bertumbuh dalam iman dan semakin mengandalkan penyertaan Tuhan. “Salib kehidupan harus kita pikul berjalan bersama Tuhan.”

Ia menekankan bahwa di balik setiap penderitaan, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Sebaliknya, Tuhan selalu hadir memberikan kekuatan bagi mereka yang tetap setia.

Tuhan Tidak Pernah Meninggalkan Umat-Nya
Pastor Pius mengingatkan bahwa harapan seorang pengikut Kristus tidak terletak pada kekuatan manusia, tetapi pada kesetiaan Tuhan yang senantiasa menyertai umat-Nya.

“Yesus tak pernah meninggalkanmu. Setialah bersandar dan mengandalkan Yesus. Dia pasti menolong anak-Nya yang setia bersama-Nya.”

Pesan tersebut menjadi penguatan agar umat tidak kehilangan pengharapan ketika menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebaliknya, setiap tantangan hendaknya menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kesetiaan Membawa Keselamatan
Mengakhiri refleksinya, Pastor Pius mengajak umat Kristiani untuk tetap bertahan dalam iman hingga akhir kehidupan.

Baginya, kemenangan seorang murid Kristus bukan diukur dari keberhasilan duniawi, melainkan dari kesetiaan yang tetap terpelihara di tengah berbagai pencobaan. “Siapa yang bertahan bersama Yesus, akan selamat.”

Melalui renungan yang berakar pada Injil Matius 10:16–23 tersebut, Pastor Pius Heljanan MSC mengajak umat untuk tidak takut menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Sebaliknya, setiap tantangan hendaknya dijadikan kesempatan untuk semakin memperkokoh iman, memikul salib dengan penuh pengharapan, serta terus menjadi saksi Kristus melalui kehidupan yang dipenuhi kasih, kejujuran, kebenaran, dan pengabdian kepada sesama.

Di tengah dunia yang terus berubah, kesetiaan kepada Kristus tetap menjadi fondasi yang kokoh menuju keselamatan yang dijanjikan Tuhan.(jk)


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *