Uncategorized

Pastor Pius Heljanan, MSC: Iman Sejati Mengubah Dukacita Menjadi Sukacita

Share

faktaexpost.my.id | Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku | Selasa, 28 Juli 2026 – Kehidupan setiap manusia tidak pernah lepas dari pergumulan, kehilangan, dan luka batin yang kerap menghadirkan duka mendalam.

Namun, di balik setiap peristiwa yang tampak gelap, iman kepada Tuhan menjadi cahaya yang mampu mengubah kesedihan menjadi pengharapan. Pesan inilah yang disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, dalam refleksi rohaninya yang bersumber dari Injil Yohanes 11:19–27.

Mengangkat kisah persahabatan Yesus dengan Marta, Maria, dan Lazarus, Pastor Pius mengajak umat merenungkan makna relasi yang erat dengan Tuhan. Menurutnya, kedekatan spiritual yang dibangun melalui iman menjadikan seseorang tetap teguh, bahkan ketika harus menghadapi kenyataan hidup yang paling menyakitkan.

Iman yang Bertahan di Tengah Kehilangan
Dalam refleksinya, Pastor Pius menjelaskan bahwa kematian Lazarus membawa duka yang begitu mendalam bagi Marta dan Maria. Namun, di tengah kesedihan itu, keduanya tidak kehilangan kepercayaan kepada Kristus. Sebaliknya, mereka tetap meyakini bahwa Tuhan hadir dengan kasih dan kuasa-Nya.

Pengakuan iman Marta menjadi inti dari permenungan Injil hari itu. “Aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah.” (Yohanes 11:27).

Bagi Pastor Pius, kalimat sederhana tersebut bukan sekadar ungkapan keyakinan, melainkan pernyataan iman yang mampu mengubah arah kehidupan. Kepercayaan penuh kepada Kristus membuka jalan bagi hadirnya mukjizat dan penghiburan sejati.

Tuhan Tidak Pernah Meninggalkan Umat-Nya
Pastor Pius mengingatkan bahwa setiap keluarga pasti pernah mengalami kehilangan, penderitaan, ataupun persoalan yang meninggalkan luka batin. Namun, situasi tersebut tidak pernah menjadi akhir dari harapan.

“Ingat, Tuhan akan mendatangimu dan keluargamu untuk menunjukkan kasih-Nya. Dia akan mengubah derita, persoalan, dan kesedihanmu menjadi sukacita.”

Menurutnya, kasih Allah selalu hadir pada waktu yang tepat. Kehadiran Tuhan tidak selalu menghilangkan persoalan secara instan, tetapi memberikan kekuatan, penghiburan, dan harapan baru bagi setiap orang yang tetap percaya kepada-Nya.

Membangun Relasi yang Intim dengan Kristus
Lebih jauh, Pastor Pius menekankan bahwa kunci menghadapi setiap pergumulan hidup bukanlah mengandalkan kekuatan manusia semata, melainkan membangun relasi yang semakin erat dengan Tuhan.

Ia mengajak umat untuk terus memelihara iman melalui doa, kesetiaan dalam berbuat baik, serta hidup dalam kasih kepada sesama. Relasi yang intim dengan Kristus diyakini akan menumbuhkan keteguhan hati dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan.

“Kuncinya percaya kepada-Nya, setia berbuat baik, dan bangun relasi yang intens dengan Tuhan. Mujizat masih ada untukmu.”

Harapan yang Tidak Pernah Padam
Refleksi Pastor Pius menjadi pengingat bahwa iman sejati bukan diukur ketika hidup berjalan tanpa persoalan, melainkan ketika seseorang tetap percaya kepada Tuhan di tengah air mata dan kehilangan.

Dari kisah Marta, Maria, dan Lazarus, umat diajak untuk melihat bahwa Kristus tidak pernah meninggalkan mereka yang berharap kepada-Nya.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan, iman yang kokoh akan melahirkan harapan baru. Sebab, bagi mereka yang percaya, kasih Tuhan selalu bekerja menghadirkan sukacita setelah dukacita, terang setelah kegelapan, dan kehidupan setelah setiap pergumulan. (Editor: joko)
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *