Uncategorized

Pastor Pius Heljanan, MSC: Kepekaan Hati Melahirkan Berkat bagi Sesama

Share

Oleh: johanis kopong

Pastor Pius Heljanan, MSC: Pembagi Berkat, Jalan Menuju Mukjizat

https://suaraanaknegeri.com | Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Senin, 3 Agustus 2026 – Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi sikap individualistis dan kecenderungan menumpuk apa yang dimiliki, Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, mengajak umat untuk kembali menghidupi spiritualitas berbagi. Baginya, berkat Tuhan tidak pernah dimaksudkan berhenti pada satu orang, melainkan mengalir kepada sesama melalui hati yang peka dan rela memberi.

Melalui refleksi yang bersumber dari Injil Matius 14:13-21 tentang mukjizat lima roti dan dua ikan, Pastor Pius mengingatkan bahwa mukjizat Allah selalu berawal dari keberanian seseorang untuk membuka hati dan membagikan apa yang dimilikinya, betapapun sederhana.

Mukjizat Berawal dari Hati yang Tergerak
Pastor Pius mengawali refleksinya dengan mengangkat kisah ketika para murid merasa keberatan memberi makan ribuan orang yang mengikuti Yesus. Secara manusiawi, situasi yang mereka hadapi memang tampak mustahil.

Hari sudah menjelang malam, tempat mereka berada jauh dari desa maupun kota, sementara persediaan makanan hampir tidak ada. Yang tersedia hanyalah lima potong roti dan dua ekor ikan milik seorang anak.

Namun, Yesus tidak memandang keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berbagi. Sebaliknya, Yesus mengajarkan bahwa yang terutama adalah hati yang rela memberi.

“Bagi Yesus yang utama dalam berbagi adalah kepekaan dan ketergerakan hati. Ketika hati terbuka, maka akan mengalir rahmat,” ungkap Pastor Pius Heljanan, MSC.

Semua yang Dimiliki Adalah Titipan Tuhan
Menurut Pastor Pius, setiap orang sesungguhnya telah menerima berbagai anugerah dari Tuhan. Ada yang diberi kemampuan, ada yang diberi rezeki, ada pula yang diberi kesempatan untuk melayani. Semua itu bukan semata-mata menjadi milik pribadi, melainkan titipan yang harus dikelola demi kebaikan bersama.

Ia mengingatkan bahwa talenta, harta, makanan, bahkan kesempatan hidup merupakan bentuk kepercayaan Tuhan kepada manusia.

“Yang kita miliki saat ini adalah titipan Tuhan: talenta, harta atau uang, makanan, dan lain-lain. Jangan batasi hanya untuk dirimu sendiri, tetapi ikhlaslah berbagi dengan sesama,” pesannya.

Berkat Harus Mengalir, Bukan Ditimbun
Refleksi tersebut juga menjadi ajakan agar umat tidak terjebak dalam sikap menumpuk berkat demi kepentingan pribadi. Pastor Pius menilai, berkat justru menemukan maknanya ketika dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam pandangannya, kepedulian dan solidaritas merupakan jalan yang memungkinkan karya Allah nyata di tengah kehidupan manusia.

“Mukjizat terjadi bila setiap orang memiliki kepekaan hati untuk saling memberi dari yang dimiliki kepada mereka yang membutuhkan,” tuturnya.

Pesan ini sekaligus mengingatkan bahwa perubahan besar dalam kehidupan sosial sering kali berawal dari tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih.

Menjadi Pembagi Berkat
Di penghujung refleksinya, Pastor Pius menyampaikan ajakan yang sederhana namun sarat makna. Ia berharap setiap orang menjadikan hidupnya sebagai saluran kasih Tuhan bagi sesama, bukan justru menahan berkat yang dipercayakan kepadanya.

“Dirimu pembagi berkat, bukan penampung berkat,” tegas Pastor Pius Heljanan, MSC.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa iman tidak hanya diwujudkan melalui doa dan ibadah, tetapi juga melalui kepedulian nyata kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan. Ketika hati terbuka untuk berbagi, di situlah kasih Allah bekerja dan mukjizat-Nya terus hadir dalam kehidupan manusia.
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *