Pastor Pius Heljanan MSC: Tuhan Menghendaki Kita Menyelamatkan Sesama
www.faktaexpost.com | Saumlaki – Di tengah dinamika kehidupan yang kian kompleks, panggilan untuk menghadirkan kasih Tuhan kepada sesama tetap menjadi pesan yang tak lekang oleh waktu. Bagi umat beriman, menjadi murid Kristus bukan sekadar menjalankan ritual keagamaan, melainkan menghadirkan harapan bagi mereka yang mulai kehilangan arah dalam perjalanan iman.
Pesan itulah yang disampaikan Pastor Pius Heljanan MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dalam renungan harian, Rabu (8/7/2026), dengan mengangkat tema “Tuhan Menghendakimu Menyelamatkan Sesama” yang bersumber dari Injil Matius 10:1–7.
Bagi Pastor Pius, perutusan Yesus kepada kedua belas murid tidak berhenti sebagai kisah masa lampau. Peristiwa itu merupakan panggilan yang terus hidup bagi setiap orang beriman untuk menjadi pembawa kasih dan keselamatan bagi sesama, terutama mereka yang telah menjauh dari Tuhan.
“Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Para murid, termasuk kita, dikehendaki Tuhan untuk mencari dan menyelamatkan sesama yang jauh dari-Nya,” ujar Pastor Pius.
Kesediaan Lebih Berarti daripada Kesempurnaan
Dalam refleksinya, Pastor Pius mengajak umat untuk tidak menunggu menjadi pribadi yang sempurna sebelum melayani Tuhan. Menurutnya, para rasul yang dipilih Yesus pun berasal dari kalangan orang biasa dengan berbagai keterbatasan. Justru di balik kelemahan manusia itulah Tuhan berkarya dan menunjukkan kuasa-Nya.
“Dua belas murid bukan orang hebat dan sempurna. Maka jangan menunggu dirimu sempurna untuk melakukan kehendak Tuhan. Tuhan hanya membutuhkan kesediaan, kesetiaan untuk tetap berpaut pada-Nya, serta kerelaan diutus melakukan kehendak-Nya,” tuturnya.
Pastor Pius menegaskan bahwa ukuran panggilan Tuhan tidak ditentukan oleh status sosial, kekayaan, penampilan, maupun tingkat pendidikan.
“Tuhan tidak memanggil orang suci, yang memiliki status sosial tinggi, gelar kesarjanaan, kaya, atau tampan dan cantik. Tuhan memanggil orang-orang biasa yang mau bekerja bersama-Nya,” katanya.
Mewartakan Injil Melalui Keteladanan Hidup
Lebih jauh, Pastor Pius mengingatkan bahwa pewartaan Injil yang paling kuat bukan hanya melalui kata-kata, melainkan melalui sikap hidup yang mencerminkan kasih, kepedulian, dan pengampunan.
Di tengah masyarakat, masih banyak orang yang perlahan menjauh dari kehidupan rohani. Mereka membutuhkan tangan-tangan yang merangkul, bukan menghakimi.
“Tugas kita saat ini adalah menolong dan merangkul penuh kasih sesama yang sudah lupa jalan kembali kepada Tuhan. Wartakan Injil melalui cara hidupmu, maka domba yang hilang akan tertarik dan berbalik kepada Tuhan,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi ajakan agar setiap orang beriman menjadi saksi kasih Kristus di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Jangan Takut Menjadi Pembawa Keselamatan
Menutup renungannya, Pastor Pius mengajak umat untuk tidak ragu menjalankan perutusan Kristus. Menurutnya, setiap langkah yang dilakukan demi menghadirkan kasih Tuhan tidak pernah berjalan sendiri. “Jangan takut menyelamatkan sesama. Tuhan setia bersamamu dengan kuasa-Nya,” pesan Pastor Pius.
Melalui permenungan Injil Matius 10:1–7, Pastor Pius Heljanan MSC mengingatkan bahwa panggilan menjadi murid Kristus adalah panggilan untuk hadir bagi sesama.
Keselamatan bukan hanya diterima sebagai anugerah pribadi, tetapi juga menjadi tugas bersama untuk menghadirkan harapan, kasih, dan jalan pulang bagi mereka yang sedang tersesat dalam perjalanan hidup dan iman.(jk)
