Refleksi Pastor Dominics dari UST Manila: Membersihkan “Balok” Sebelum Menegur “Selumbar”
Pesan Pastoral UST Manila: Integritas Diri Sebagai Fondasi Pewartaan
Oleh: Johanis Kopong
Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Jumat, 11 September 2026
Panggilan Universal untuk Mewartakan
Gema spiritualitas menyapa umat dari kejauhan. Berpusat di Central Seminary University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, RD. Dominics Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di institusi bersejarah tersebut, membagikan refleksi mendalam mengenai panggilan fundamental setiap umat Kristiani. Dalam pesan pastoralnya yang bertepatan dengan Hari Biasa, Pekan Biasa XXIII (Bacaan Pertama: 1 Kor 9:16-19.22b-27; Bacaan Injil: Luk 6:39-42), ia menekankan bahwa penyebaran Kabar Baik bukanlah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan.
”Mewartakan Injil adalah kewajiban setiap pengikut Kristus,” tegas RD. Dominics Baldawins Masriat. Beliau mengajak umat untuk tidak sekadar membaca, melainkan secara aktif merenungkan dan membagikan nilai-nilai Injil. Lebih lanjut, ia menggarisbawahi pentingnya kemurnian niat dalam pelayanan tersebut, dengan menyatakan, “Adapun dalam pelayanan ini, kita pun berusaha agar tidak menuntut upah atau penghargaan manusia.”
Integritas Tindakan Melampaui Kata-kata
Pewartaan sejati, menurut RD. Dominics, melampaui batas-batas retorika dan tulisan. Esensi penyampaian Kabar Baik justru bersandar pada integritas hidup sehari-hari. Tindakan nyata menjadi bahasa yang paling fasih dalam mengkomunikasikan kasih Tuhan.
”Pewartaan Injil bukan hanya dilakukan melalui tulisan dan perkataan tetapi juga melalui tindakan kita,” paparnya. Oleh karena itu, ia mendorong setiap individu yang mendedikasikan diri sebagai pewarta untuk menjadikan hidup mereka sebagai cerminan nyata dari ajaran yang mereka sampaikan. “Sebagai pewarta, kita berusaha agar tindakan kita menjadi contoh pewartaan Injil yang sempurna,” imbuhnya.
Introspeksi Diri: Fondasi Koreksi yang Berkasih
Menggali makna Injil Lukas 6:39-42, RD. Dominics menyoroti kecenderungan manusiawi untuk lebih mudah melihat kekurangan orang lain dibandingkan dengan kelemahan diri sendiri. Metafora “balok” dan “selumbar” menjadi pengingat tajam akan pentingnya introspeksi.
”Sebelum mengkritik atau memperbaiki kesalahan kecil sesama (‘selumbar’), kita harus lebih dahulu mengoreksi dan membersihkan kelemahan atau dosa besar dalam diri kita sendiri (‘balok’),” pesan RD. Dominics dengan lugas. Ia mengingatkan bahwa “Koreksi yang paling ampuh adalah teladan hidup.” Pembenahan diri yang tulus akan memampukan seseorang untuk membimbing sesama, “bukan dengan sikap merasa diri paling benar,” melainkan dengan penuh kasih.
Refleksi ini ditutup dengan sebuah permohonan yang menggugah, “Ya Allah berkatilah kami agar kami mampu mewartakan Injil kepada segala bangsa,” memohon kekuatan ilahi untuk menjalankan perutusan luhur tersebut.
(Sumber: RD. Dominics Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa UST Manila – Filipina)
