Uncategorized

Pastor Pius Heljanan, MSC: Jangan Menjadi Pribadi yang Tamak

Share

Pastor Pius Heljanan, MSC Ajak Umat Belajar Bersyukur dan Bermurah Hati

Saumlaki | faktaexpost.my.id – Senin, 19 Oktober 2026. ​Pastor Pius Heljanan, MSC, Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, mengajak umat menghindari sikap tamak serta belajar hidup bersyukur, merasa cukup, dan bermurah hati.

​Ketamakan Menjauhkan Manusia dari Tuhan

​Melalui refleksi rohani berbasis Injil Lukas 12:13-21, Pastor Pius mengingatkan bahwa ketamakan, keinginan tak terkendali untuk memiliki lebih dari kebutuhan—dapat membuat seseorang mengabaikan Tuhan dan sesama. Ia menegaskan Tuhan tidak menentang kekayaan, namun manusia tidak boleh membiarkan hatinya terpikat pada harta duniawi hingga melupakan nilai rohani dan kehidupan kekal.

​Parafrasa Pesan Refleksi: Harta benda bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Hal yang paling berharga adalah cara seseorang menggunakan kekayaannya, memperlakukan sesama, dan menjaga hubungannya dengan Tuhan.

​Belajar Cukup dan Memberi Tulus

​Pastor Pius menyampaikan bahwa ketamakan dapat dihindari dengan belajar mengatakan cukup, bersyukur, memberi dengan tulus, serta berfokus mengumpulkan harta surgawi melalui perbuatan baik dan kedekatan dengan Tuhan.

​Dalam pesannya, ia mengangkat pertanyaan reflektif dari Injil Lukas 12:20 mengenai keterbatasan hidup manusia yang menimbun kekayaan:

 “Bagi siapakah nanti harta yang telah kausediakan itu,” kutip pesannya.

​Pesan ini menjadi pengingat agar setiap orang tidak sekadar menumpuk harta duniawi, melainkan memikirkan nilai kehidupan yang lebih mendalam.

​Hati yang Benar Lebih Berharga dari Harta

​Menutup refleksinya, Pastor Pius menekankan bahwa kehidupan tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan memiliki hati yang benar dalam iman, bersyukur, merasa cukup, bermurah hati, dan menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan.

​Parafrasa Pesan Penutup: Kekayaan hendaknya digunakan secara bijaksana sebagai sarana berbuat baik, bukan sumber kesombongan. Nilai kehidupan sejati diwujudkan melalui iman, rasa syukur, kemurahan hati, dan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

​(Editor: joko)

(Sumber: Refleksi rohani Pastor Pius Heljanan, MSC, berdasarkan Lukas 12:13-21.)

​


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *