Rawat Cinta dalam Perkawinan dengan Kesetiaan
https://faktaexpost.my.id
Saumlaki, Jumat, 14 Agustus 2026
Saumlaki – Yesus sangat menghargai orang-orang yang dengan penuh cinta dan kebebasan memutuskan hidup bersama sebagai suami istri. Kebersatuan tersebut diikat dalam sakramen perkawinan yang kudus dan tidak boleh diceraikan oleh siapapun kecuali Allah melalui kematian.
“Yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia,” demikian pesan Pastor Pius Heljanan MSC dalam refleksinya berdasarkan Matius 19:3-12.
Menurut Pastor Pius, cinta yang dibangun oleh dua pribadi yang berbeda harus terus dipupuk dan dirawat melalui doa, kesetiaan, pengorbanan, pengampunan dan komunikasi yang tulus. Kehidupan bersama membutuhkan kesediaan untuk menjaga cinta, terutama ketika pasangan menghadapi berbagai persoalan dan luka dalam relasi.
“Banyak relasi yang terbangun hancur karena sulitnya mengampuni. Semakin dalam hati terluka, semakin hilang niat mengampuni,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa orang yang paling sering melukai hati justru dapat berasal dari orang yang paling dekat dan sangat dicintai. Luka tersebut dapat muncul karena merasa dibohongi, dikhianati dan tidak dihargai.
“Sadarilah, orang yang paling sering melukai hati kita adalah orang yang paling dekat dan sangat kita cintai,” katanya.
Karena itu, cinta yang besar kepada pasangan harus disertai dengan kesediaan untuk mengampuni dalam kehidupan bersama. Pengampunan menjadi bagian penting dalam menjaga keutuhan relasi dan merawat cinta yang telah dibangun dalam perkawinan.
“Cinta yang besar pada orang yang kita cintai harus dibarengi dengan pengampunan tanpa batas dalam hidup bersama. Rawatlah cintamu dengan setia,” pesan Pastor Pius.
(Editor: joko)
(Sumber: Pastor Pius Heljanan MSC)
