Tuhan Bertindak Adil untuk Semua Orang
https://faktaexpost.my.id | Saumlaki, Senin, 17 Agustus 2026 – Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, mengajak umat untuk memahami keadilan Allah melalui kasih dan kemurahan hati-Nya yang tidak dibatasi oleh ukuran manusia.
Pesan tersebut disampaikan Pastor Pius dalam refleksinya yang bertolak dari Injil Matius 20:1-16a tentang perumpamaan para pekerja di kebun anggur. Perikop tersebut mengingatkan bahwa kemurahan hati Allah tidak dapat semata-mata diukur berdasarkan jasa, lama pengabdian maupun balasan yang diterima manusia.
Dalam refleksinya, Pastor Pius menegaskan bahwa Yesus menunjukkan keadilan-Nya melalui kasih kepada manusia. Keadilan Allah, menurutnya, memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibandingkan ukuran keadilan yang lazim digunakan manusia.
“Yesus menunjukkan keadilanNya dlm mengasihi manusia terungkap dlm perumpaan pemberian upah kerja. Kemurahan hati Allah bagi manusia melampaui keadilan versi dunia,” tulis Pastor Pius.
Ia menjelaskan, rahmat Allah diberikan kepada manusia bukan pertama-tama karena jasa atau prestasi, melainkan berdasarkan kasih-Nya yang tidak terbatas.
“Allah memberikan rahmat utk kita, pertama² bukan berdasarkan ‘Jasa’, tpi menurut kasih yg tanpa batas,” demikian refleksinya.
Karena itu, Pastor Pius mengingatkan umat agar setiap bentuk kebaikan dan pelayanan kepada sesama tidak dilakukan dengan motivasi untuk memperoleh balasan, baik berupa pujian, penghormatan, jabatan, pangkat maupun materi.
“Ingat, jgn berbuat baik atau melayani sesama demi mencari balasan/upah: pujian, penghormatan, jabatan, pangkat, uang, tpi suatu panggilan iman dan hati utk mengasihi org lain,” pesannya.
Menurut Pastor Pius, kehidupan iman juga mengajarkan manusia untuk tidak memperhitungkan kebaikan sebagai jasa yang kemudian digunakan untuk menuntut balasan dari Tuhan. “Jgn menuntut hak pada Tuhan karna jasa dlm berbuat kebaikan,” tegasnya.
Ia menambahkan, keselamatan dan berkat yang diterima manusia bukan ditentukan oleh seberapa lama seseorang bekerja atau melayani, melainkan merupakan bagian dari belas kasih dan kemurahan hati Allah.
“Tuhan menyelamatkan dan memberi berkat utk kita bukan ukuran lamanya kita ‘bekerja/melayani’, melainkan belas kasih dan kemurahan hatiNya,” tulisnya.
Refleksi tersebut sekaligus menjadi ajakan untuk menghindari iri hati ketika melihat orang lain menerima berkat Tuhan. Sikap iri, menurut Pastor Pius, dapat menjadi tanda bahwa seseorang belum sepenuhnya membuka hati untuk mensyukuri anugerah yang telah diterimanya.
“Org yg iri hati pada sesama karna mendapat berkat dari Tuhan, sebenarnya org yg menutup hati dlm bersyukur dan tdk merasa puas atas anugerah Tuhan dlm hidupnya,” demikian pesan Pastor Pius.
Melalui perumpamaan para pekerja di kebun anggur, umat diajak melihat bahwa kasih dan kemurahan hati Allah tidak dapat disamakan dengan perhitungan manusia. Setiap orang dipanggil untuk melayani dengan ketulusan, mengasihi tanpa pamrih dan membangun kehidupan yang berakar pada rasa syukur.
Refleksi ini menjadi pengingat bahwa iman tidak seharusnya dibangun di atas kalkulasi tentang apa yang akan diterima sebagai imbalan, tetapi pada kesediaan untuk menerima kasih Allah sekaligus membagikannya kepada sesama.
(Editor: johanis kopong)
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)
