Uncategorized

RD Ponsianus Ongirwalu: Di Balik Jeruji, Masih Ada Ruang untuk Pertobatan dan Harapan

Share

Dari Balik Jeruji, RD Ponsianus Ongirwalu Ajak Tahanan Menata Kembali Arah Hidup

https://faktaexpost.my.id | Saumlaki, Senin, 17 Agustus 2026 – Di balik dinginnya lantai semen dan jeruji besi Rumah Tahanan Kepolisian Resor Kepulauan Tanimbar, para tahanan diajak melihat masa pembinaan bukan semata-mata sebagai ruang keterbatasan, melainkan sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi, memohon pengampunan, dan menata kembali kehidupan dalam terang kasih Tuhan.
Refleksi tersebut disampaikan RD Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kevikepan Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang juga merupakan Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Dalam refleksinya, RD Ponsianus menggambarkan pengalaman berada di balik jeruji sebagai ruang yang dapat membawa seseorang berhadapan secara jujur dengan kesalahan masa lalu, termasuk dampak perbuatan terhadap keluarga dan sesama.
“Dinginnya lantai semen dan jeruji besi di Polres KKT ini seolah tak seberapa dibanding perihnya dada kami saat ini. Di dalam ruangan yang sempit ini, waktu terasa berhenti, meninggalkan kami bersama bayang-bayang kesalahan yang telah kami perbuat,” demikian refleksi tersebut.
Menurutnya, penyesalan yang muncul dalam diri para tahanan tidak hanya berkaitan dengan hilangnya kebebasan secara fisik. Penyesalan tersebut juga menjadi jeritan batin ketika seseorang menyadari bahwa perbuatannya telah melukai orang-orang yang dikasihi, merugikan sesama, serta menjauhkan dirinya dari kehendak Tuhan.
“Kami teringat pada wajah-wajah yang kami cintai, istri, suami, anak, orang tua, yang harus menanggung malu dan duka akibat perbuatan kami. Kami juga teringat pada orang-orang yang telah kami sakiti, yang haknya kami rampas atau ketenangannya kami usik,” demikian ungkapnya.
Dalam suasana penyesalan itu, Sabda Tuhan melalui Injil Yohanes 17:20-26 ditempatkan sebagai sumber penguatan dan harapan. Pesan Kristus tentang kebersamaan dengan mereka yang diserahkan kepada-Nya dipandang sebagai pengingat bahwa seseorang tidak pernah sepenuhnya ditinggalkan oleh Tuhan, termasuk ketika sedang menjalani masa pembinaan.
“Namun, di tengah gulita penyesalan ini, Sabda Tuhan melalui Yohanes 17:20-26 hadir bagai titik terang: ‘Semua orang yang Kau serahkan kepada-Ku akan tinggal bersama-Ku di tempat Aku berada.’ Ayat ini menyapa kami yang merasa terbuang,” demikian refleksi tersebut.
Kasih Allah Tidak Dibatasi Jeruji
Kepada para tahanan, RD Ponsianus menyampaikan pesan pastoral agar mereka tidak melihat masa pembinaan semata-mata sebagai hukuman, tetapi sebagai kesempatan untuk membangun kembali kehidupan melalui pertobatan, doa, dan perubahan sikap. “Anak-anakku yang dikasihi Tuhan,” demikian sapaan RD Ponsianus dalam pesannya.
Ia menegaskan bahwa kedatangannya ke tempat pembinaan tersebut tidak didasarkan pada sikap menghakimi, melainkan membawa pesan belas kasih Kristus kepada mereka yang sedang menjalani proses hukum dan pembinaan.
“Saat saya berjalan melangkah ke tempat ini, hati saya tidak membawa penghakiman, melainkan belas kasih Kristus. Tempat pembinaan ini mungkin membatasi langkah kaki kalian, tetapi ingatlah bahwa tembok tebal dan jeruji besi tidak akan pernah mampu membatasi kasih dan pengampunan Allah,” katanya.
RD Ponsianus juga mengingatkan para tahanan mengenai makna Sakramen Pengampunan Dosa yang diterima. Menurutnya, pengampunan hendaknya tidak berhenti pada pelepasan rasa bersalah, tetapi menjadi awal dari pertobatan yang diwujudkan melalui perubahan kehidupan.
“Pengampunan Itu Nyata,” tegasnya.
“Sakramen Pengampunan Dosa yang kalian terima hari ini adalah tanda sah bahwa Tuhan telah menghapus beban kelam kalian. Jangan lagi memikul rasa bersalah yang mematikan harapan; bawalah penyesalan itu menjadi benih pertobatan yang sejati,” lanjutnya.
Keluarga Menjadi Dorongan untuk Berubah
Selain berbicara mengenai pengampunan, RD Ponsianus mengajak para tahanan untuk mengingat keluarga yang mereka tinggalkan di rumah. Menurutnya, kenangan mengenai air mata, luka, dan harapan keluarga hendaknya menjadi kekuatan untuk melakukan perubahan, bukan alasan untuk semakin terpuruk.
“Tatap Wajah Orang-Orang yang Kalian Kasihi,” pesannya.
“Ingatlah air mata keluarga yang menanti di rumah, dan bayangkan luka dari mereka yang telah kalian sakiti. Jadikan ingatan itu sebagai dorongan terkuat untuk berubah, bukan untuk makin terpuruk. Kalian berutang masa depan yang lebih baik kepada mereka,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa identitas dan masa depan seseorang tidak semestinya ditentukan hanya oleh kesalahan yang pernah dilakukan. Dalam perspektif iman, manusia tetap memiliki kesempatan untuk kembali kepada Tuhan dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Masa Pembinaan sebagai Kesempatan Kedua
RD Ponsianus mengajak para tahanan menjadikan masa pembinaan sebagai momentum untuk bertumbuh secara rohani, memperbaiki diri, serta menata kembali arah kehidupan. “Kalian Milik Kristus,” pesannya.
“Yesus berdoa agar kalian ada di mana Ia berada. Tempat kalian yang sejati bukanlah dalam dosa atau kejahatan, melainkan dalam kedamaian dan kebenaran Allah. Jadikan masa pembinaan ini sebagai waktu bertumbuh, berdoa, dan menata kembali arah hidup,” katanya.
Pada bagian akhir pesannya, RD Ponsianus menegaskan bahwa para tahanan tidak berjalan sendirian dalam proses pertobatan. Doa Gereja dan kasih Tuhan, menurutnya, tetap menyertai setiap orang yang sungguh-sungguh berusaha memperbaiki kehidupan.
“Kalian tidak berjalan sendiri. Doa Gereja dan kasih Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah pertobatan kalian. Bangkitlah, sebab di dalam Tuhan, selalu ada kesempatan kedua,” pungkas RD Ponsianus Ongirwalu. Editor: Johanis Kopong


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *